Thursday, February 21, 2008

Dreamgirls & Walk The Line

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Ketika kesuksesan mendatangkan kesusahan

Kedua film ini menceritakan perjalan karir penyanyi beserta lika-likunya. Gw ga' tau keduanya, baik group The Supremes yang digawangi Diana Ross maupun John Cash yang keduanya mungkin hidup di tahun 60an. Lagunya juga ga familiar, cuma lagunya john cash pernah ada yang denger 1 atau 2 lagu tapi sekarang juga dah lupa lagi.

Walk the Line menceritakan kisah John Cash (Joaquen Phoenix) yang mengawali karir sebagai sales dan terus menghidupkan mimpinya untuk menjadi penyanyi. Dengan bermodal gitar dan lagu yang ditulisnya sendiri akhirnya berhasil mengantarnya menjadi penyanyi top dan mempertemukannya dengan June Carter (Reese Witherspoon) penyanyi terkenal dan cantik yang membuatnya jatuh cinta (lagi). Kesuksesannya dipangung seperti juga yang dialami banyak artis tidak diikuti kesuksesan dalam kehidupan pribadinya terutama masalah cinta dan obat terlarang. John sangat terobsesi dengan June dan obat-obatan, hal inilah yang membuat perkawinannya dengan vivian berakhir. Cinta sejati John adalah June Carter dan dia berusaha meyakinkan June untuk bisa menerimanya, butuh perjuangan berat bagi John untuk mendapatkannya. Akhirnya cinta sejati itu pula yang menyembuhkannya ketika June bersedia menerima menjadi istrinya.

Dreamgirls menceritakan perjuangan 3 ce' yang pada awalnya hanya menjadi backing vokal James "thunder" Early (Eddy Murphi) akhirnya bisa menjadi group terkenal berkat tangan dingin sang manajer Curtis (Jamie Foxx). Untuk meningkatkan popularitasnya maka posisi lead vocal yang semula dipegang Effie White (Jennifer Hudson) digantikan oleh Deena Jones (Beyonce Knowles) yang jauh lebih cantik. Effie yang tidak menerima perubahan ini akhirnya memutuskan keluar, ketika dia berubah pikiran untuk kembali ke groupnya ternyata posisinya sudah digantikan orang baru. Bukan hanya dia kehilangan posisi di group tersebut, ia juga kehilangan kekasihnya, Curtis, yang akhirnya menikahi Deena. Karir Effie berbanding terbalik dengan kesuksesan Dreamgirls, namun kesuksesan inipun tidak mendatangkan kebahagiaan. James bunuh diri, Effie bersama adiknya yang dulu memilih mendukung Curtis mengajukan tuntutan hukum, Deena minta cerai dan akhirnya Dreamgirlspun bubar.

Walaupun keduanya mengangkat topik yang sama, gw lebih suka Walking The Line. Mungkin ini karena pengaruh gw yang suka ama film yang bisa bikin gw hanyut (oleh airmata), atau karena jenis music dreamgirls R&B jadul yang ga' terlalu gw sukai, atau karena penggarapan dreamgirls yang seperti panggung broadway (katanya diangkat dari sini juga) sehingga setiap moment lebih digambarkan via lagu. Tapi akting bintang-bintang yang ada di ke-2 film ini gw nilai cukup bagus, tidak salah kalo reese dan jennifer mendapatkan oscar atas peran brillian mereka.

Monday, December 3, 2007

Infernal Affair & The Departed

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Mystery & Suspense
KECEWA! itu yang gw rasain sewaktu melihat remake film Infernal Affair dengan The Departed yang secara film ini digawangi sutradara besar seperti Martin Scorsese yang bahkan diganjar oscar tahun 2007 ini. Ternyata kemilau bintang hollywood masih ga bisa menandingi akting cemerlang bintang asia seperti Andy Lau dan Tony Leung.

Film ini bercerita tentang aksi saling susup antara gangster dan polisi, dari gangster (Eric Tsang vs Jack Nicholson) menyusupkan Andy Lau vs Matt Damon dan kepolisian yang dipimpin Martin Sheen vs Anthony Wong menyusupkan Tony Leung vs Leonardo deCaprio. Dari ke-4 peran utama ini gw memenangkan Andy Lau, Anthony Wong dan Tony Leung dan menyisakan Jack Nicholson atas akting cemerlang mereka. Dan gw pengen menghajar Matt Damon atas akting buruknya (untuk kesekian kalinya) yang membuat film the Departed ga ada gregetnya. Lihatlah gimana Andy sebagai tokoh jahat bisa hadir dengan sangat mengagumkan dimata rekan kerjanya dan dimata kekasihnya. Leonardo emang ga jelak aktingnya, bahkan paling bagus aktingnya diantara pemain The Departed tapi masih kalah jauh dari mimik muka dan pancaran mata penuh ketakutan dan kegelisahan Tony Leung. Sedangkan Jack Nicholson walopun tidak terlalu bagus (entahlah gw slalu lihat Joker dimukanya) tapi emang lebih bagus jika dibandingkan Eric Tsang.

Perubahan sedikit Infernal Affair (IA) ke The Departed (TD) adalah kisah pacar Andy & Tony, kalau dalam IA keduanya memiliki pacar yang berbeda (dan tidak memerlukan bumbu seks) sedangkan dalam TD Leo dan Matt diceritakan memiliki pacar yang sama, yaitu seorang psikiater. Seharusnya tidak perlu ada kisah perselingkuhan, justru kesannya jadi "film" banget coz semua orang terkoneksi dengan mudah. Pengiriman sandi-nya juga lebih keren di IA yang cuman make kode ketukan bukan via sms. Kematian inspektur polisi-nya juga jauh lebih dramatis di IA (oh gosh...lihatlah muka Tony). Infernal Affair jelas jauh lebih bagus dari the Departed. Infernal Affair hadir menjadi trilogy, walopun agak membingungkan di IA 2 & 3 karena alurnya yang flashback tapi kalo diikuti semuanya, jalan ceritanya tidak akan membingungkan apalagi membosankan.

Asia hongkong memang banyak melahirkan film keren terutama yang dibintangi Andy Lau (he's my fav) Tony Leung, Anthony Wong dan Takeshi Kanesiro, yang semoga diikuti oleh Indonesia dengan menghasilkan karya BAGUS siapa tahu dilirik Hollywood, jangan hanya bisa mencontek mengadaptasi saja.

Apocalypto & Papua

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Mystery & Suspense
Saat Perang menjadi pilihan tak terhindarkan

Gw menyandingkan dua hal yang berbeda karena baru saja gw baca berita tentang perang suku di papua yang sudah memakan korban jiwa (lagi) yang mengingatkan gw dengan film arahan Mel Gibson yang spektakuler, Apocalypto. Semoga perang di papua segera berakhir.

Apocalypto merupakan bahasa Yunani yang jika diterjemahkan berarti new beginning atau awal baru. Berlatar belakang kehidupan Maya kuno, film ini dipenuhi dengan adegan sadis perkelahian, pembunuhan sadis (biadab) yang kadang bikin gw ga' tega buat ngliatnya. Cerita diawali dengan kehidupan bahagia (dan lucu) jaguar paw dan kelompoknya, namun kemudian terusik dengan adanya serombongan orang yang melintas batas untuk menghindari pengejaran. Jaguar dan ayahnya tidak menceritakan kejadian ini ke warganya, hal ini untuk menghindari ketakutan. Tapi selagi matahari baru bersinar, kampung mereka telah di kepung dan banyak warganya yang dibantai. Jaguar paw berhasil menyelamatkan istrinya yang sedang hamil dan anaknya yang amasih kecil dengan memasukkan mereka ke dalam sumur, sementara ayahnya sendiri terbunuh didepan matanya.

Jaguar paw dan warga lainnya di ikat dan dibawa dalam perjalanan panjang dan penuh siksaan ke kota Maya. Wanitanya dijual sedangkan kaum pria akan dipersempahkan kepada dewa matahari dengan cara diletakkan di altar, dadanya disobek, diambil jantungnya dan kepalanya kemudian dipenggal dan dibuang dari puncak altar ke alun-alun yang penuh sesak orang. Ketika jaguar paw akan dipersembahkan, tiba-tiba datang gerhana matahari yang mereka yakini bahwa dewa matahari telah kenyang sehingga tidak perlu persembahan lagi. Nasib paw dan temannya untuk sementara terhindar dari kematian, dan merekapun dibebaskan. Pembebasannya dilakukan di lapangan terbuka, mereka diminta lari melewati lapangan dan jika selamat sampai di ladang jagung maka mereka dibebaskan. Tentu saja tidak ada yang selamat, paw juga tidak luput dari tombak tapi seorang temannya yang sedang sekarat berhasil membantunya dan paw-pun berhasil lolos dengan membunuh anak pimpinan kelompok pemburu ini. Dan mulailah usaha keras paw untuk mempertahankan hidup demi menemui anak istrinya dimulai. Benar-benar menegangkan, apalagi hujan mulai turun dan air mulai mengisi sumur tempat istrinya yang hamil tua dan anaknya bersembunyi. Di akhir film, keputusan yang di ambil oleh jaguar paw untuk menentukan jalan hidupnya merupakan penegasan judul film ini.

Mel Gibson bukan hanya brilliant dalam menggarap detil make up, aksesoris, tato, tapi pemilihan penggunaan bahasa (Maya?) juga menambah film ini terasa lebih nyata.